Lebaran Bukan Akhir Perjuangan Nilai-Nilai Puasa

Lebaran Bukan Akhir Perjuangan Nilai-Nilai Puasa

BandungBarat.Net - Bulan Ramadhan sampai pada ujungnya. Hari kemenangan telah tiba. Semua umat muslim bersuka cita. Kebahagiaan meluber kemana-mana. Setidaknya itu yang dirasakan umat muslim di dunia. Berkah ramadhan tidak pandang bulu. Siapa saja bisa merasakannya. Tidak hanya bagi umat muslim, seluruh umat nampaknya terciprat kebaikannya.

Bahkan, umat muslim yang sering nakal dan bandel pun merasa senang akan datangnya hari yang fitri. Mereka yang tidak puasa, mereka malas shalat tarawih, dan mereka yang seringkali melabrak aturan Ramadhan pun turut sibuk ikut memilih-milih baju lebaran. Mempersiapkan kue dan makanan untuk jamuan hari raya. Memeriahkan ujung ramadhan sebagai hari bahagia dan penuh suka cita. Ucapan selamat di-broadcast-kan kemana mana, meluber, dan bertebaran kepada setiap kepala. Diucapan langsung dengan verbal, maupun dikemas melalui media. Semua merasakannya.

Apakah hanya sebatas demikian akhir dari bulan puasa? Setelah umat muslim diwajibkan berpuasa dan berperang melawan hawa nafsu, lantas digojlok dengan kegiatan peribadahan hingga propaganda kebaikan yang digembar-gemborkan, apakah memang selesai dengan diakhiri lebaran? Apakah peningkatan atas perang melawan hawa nafsu, peningkatan peribadahan, dan propaganda kebaikan telah usai? Lantas semua diturunkan kembali menjadi sesuatu biasa-biasa saja atau kadang melabrak aturan?

Disinilah kita baru mengerti kenapa Rasulullah SAW dahulu rindu Ramadan, kangen Ramadhan, seolah ingin setiap bulan sejatinya adalah Ramadhan. Dalam sebuah hadits untuk fadloilul amal disebutkan tentang doa Rasulullah SAW saat memasuki bulan Ramadhan:
ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺑَﺎﺭِﻙْ ﻟَﻨَﺎ ﻓِﻲ ﺭَﺟَﺐَ ﻭَﺷَﻌْﺒَﺎﻥَ ﻭَﺑَﻠِّﻐْﻨَﺎ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥَ
Artinya:
“Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban dan sampaikanlah kami sampai ke Ramadhan.”


Dalam hadits lain dikatakan:
ﻟَﻮْﺗَﻌْﻠَﻢُ ﺃُﻣَّﺘِﻲْ ﻣَﺎ ﻓِﻲْ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥَ ﻟَﺘَﻤَﻨَّﻮْﺍ ﺃَﻥْ ﺗَﻜُﻮْﻥَ ﺳَﻨَﺔُ ﻛُﻠُّﻬَﺎ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥَ
“Seandainya umatku tahu keutamaan, keistimewaan Bulan Ramadan, niscaya mereka akan berharap, ‘Ya allah, satu tahun ini Ramadan saja. Tidak ada Syawal, Dzulqo’dah, Dzulhijjah,’ karena begitu istimewa dan utamanya bulan Ramadan”.

Bulan Ramadan merupakan bulan istimewa. Bulan dimana amal ibadah akan diganjar dengan berlipat sehingga mampu membuat setiap orang ingin mendapatkan keutamaannya. Dan karena sebab itu banyak orang meningkatkan kebaikan di bulan yang bagi umat muslim ada berkah kewajiban puasa.

Namun demikian, ketika bulan Ramadan telah berakhir, sebagian kalangan justru nampak gamang. Berakhirnya bulan Ramadhan seperti berakhir pula semangat meningkatkan amal. Pedahal berakhirnya Ramadhan bukan berarti berakhir pula usaha untuk meningkatkan kualitas diri dengan memperbanyak ibadah dan melakukan kebaikan. Ujian sebenarnya justru ada pasca berakhirnya bulan Ramadhan. Dimana kemudian kita akan dilihat dan melihat hasil serta progres setelah menjalani ibadah puasa. Yakni mampukah kita mempertahankan usaha peningkatan kualitas diri kita dengan ibadah dan kebaikan di bulan-bulan lainnya. Sebab esensi dari ramdhan adalah untuk perbaikan diri. Jika kemudian setelah Ramadhan kita malah kembali melaksanakan keburukan, maka hal tersebut adalah tanda kegagalan dalam diri. Yang nampaknya Ramdhan tidak memberi arti signifikan. Tidak ada progress yang berarti.

Sehingga sudah sepatutnya saat kita sampai di akhir Ramadhan, lantas sampai pada puncak Idul Fitri, maka disanalah awal bagi kita untuk meneguhkan konsistensi dalam berbakti dan bertakwa kepada Allah SWT. Dalam sebuah nasihat diktakan:
ليس العيد لمن ثوبه الجديد انما العيد لمن طاعته تزيد
Artinya:
"Ied bukan sekedar bagi orang yang pakaiannya baru, sesungguhnya Ied untuk orang yang ketaatannya tambah maju."


Dan karena itulah, hendaknya memaknai lebaran lebih harus difokuskan pada awal perjuangan untuk terus mempertahankan iman dan takwa. Bukan hanya sekedar hegemoni petasan, ketupat, baju baru, dan hura-hura belaka. Melainkan dilakukan dengan makna Ied secara hakiki, yakni kembali pada fitrah dan berusaha untuk tidak mengotorinya kembali.**
(rm)

Klik untuk berkomentar