Sakit! Tulisan Ini Untuk Orang Bandung Barat

Orang Bandung Barat

BandungBarat.NET, KOLOM ~ Hari terus berganti, waktu terus berjalan. Setiap orang ada masanya, setiap masa ada orangnya.

Kita hadir di tanah ini. Di tanah yang kemudian bernama Bandung Barat. Jika di antara kita saat ini masih ada yang belum faham makna kedaerahan, maka sekarang saatnya kita mulai berfikir untuk memahami jati diri kita. Dalam konteks kita adalah orang lembur. Kita adalah satu jelmaan warisan dari orang tua serta para leluhur terdahulu.

Ini menjadi penting. Ketika sebagian dari kita banyak yang lalai, ketika lembur mulai disepelekan, ketika nilai-nilai leluhur banyak dilupakan, dan ketika generasi penerus seolah kehilangan jati diri, maka kita tinggal menunggu penyesalan. Sedangkan saat ini kita dimana? Sayangnya saat ini kita seperti amnesia, atau nungkin menjadi bagian dari orang-orang yang turut lalai. Tentang lembur yang harus dijaga, tentang generasi penerus yang harus dibela, dan tentang nilai-nilai yang harus ditempa.

Orang Bandung Barat, kita punya kultur..

Kita saat ini berada di tanah yang telah diperjuangkan, di lingkungan yang telah diikhtiarkan, ditempatkan dan ditata dari buah jerih payah kaya'ah, kadedeuh, dan kapaur orang tua serta para leluhur terdahulu. Banyak nilai-nilai yang telah ditanamkan oleh mereka untuk bekal kita hari ini. Untuk mentalitas, kultur, budaya, dan spirit kebaikan yang tanpa kita sadari bahwa kita berada dipangkuannya. Kita dibentuk sebagai masyarakat yang ramah, masyarakat yang santun, masyarakat sunda yang menjungjung tinggi etika dan nilai-nilai kesopanan dan persaudaraan.

Dan syukurnya, sebagian dari kita saat ini kita masih bisa merasakan itu. Setidaknya kembang-kembangya masih terasa. Namun waktu siapa yang tahu? Kelak tidak menutup kemungkinan anak cucu serta generasi penerus kita di kemudian hari kehilangan jati diri yang manis ini.

Hari ini kita banyak dirampok oleh gelombang globalisasi yang tak tersaring. Budaya-budaya asing merangsak membabi-buta. Tak kenal positif maupun negatif, semua keluyuran menjelajah sumber daya alam dan manusianya. Tatkala sopan santun sudah ditaruh di dengkul, tatkala kata-kata kasar meraja dan penggunaan bahasa daerah mulai terasa sangsi dan gengsi. Tatkala budaya ramah berubah. Di jalan dan dan di mana saja, kita seolah tidak asing melihat orang yang sudah tidak lagi beretika. Ketika banyak anak muda yang nongkrong sekenanya dan orang tua berlalu lalang seolah membiarkan. Fenomena anak-anak bebas pacaran bercumbu di pinggir jalan, sedangkan orang tua mengaggap maklum. Ini seolah negasi dari kultur terdahulu. Pedahal kita bukan di negeri yang menganggap murah perawan dan kesopanan.

Kita punya kultur. Kita punya kebaikan. Peradaban akhlak yang kita miliki lebih elegan dari budaya setan. Lantas kenapa kita seolah tak confidence dengan membiarkan kedaulatan identitas kita perlahan musnah?

Hendaknya kita senantiasa memegang ciri dan cara orang tua terdahulu. Dimana di tanah ini, di bumi yang dipijak ini, di lembur yang kemudian bernama Bandung Barat ini, sudah ada warisan karakter. Nikmat mana yang akan kita dustakan dikala orang-orang sibuk mencari pendidikan karakter akibat di lingkungannya sudah krisis karakter? Kita sudah punya karakter. Tinggal bagaimana kita mampu menghargai.

Menjadi bangsa yang maju itu penting. Kita harus menjadi manusia yang hidup pada zamannya, menjadi manusia kekinian. Sebagaimana Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali berkata, "kun ibna zamanik!" jadilah anak zamanmu!. Sehingga kemajuan teknilogi harus kita miliki, ilmu pengetahuan harus kita kuasai. Berbagai kemajuan harus kita sambangi. Tentunya tanpa menggadaikan nilai-nilai dan kultur-kultur yang baik. Tak heran bila dalam ushul dikatan, "Menjaga nilai-nilai lama yang baik, dan menggali nilai-nilai baru yang lebih baik."

Akhirnya, kita rindu mentalitas anak-anak pada masa-masa kebersamaan dulu. Tatkala mereka riang bermain poces, rerebonan, lulumpatan dan bermain di jarambah lembur. Batan mengurung diri depan televisi dan playstation, atau memain-mainkan gadget seharian penuh.

Kita rindu adanya masjid yang dipenuhi anak-anak pengajian setiap sore sampai waktu isya. Tatkala mereka mengaji sambil bercanda khas kekanak-kanakannya. Kita ingin adzan magrib benar-benar sebagai waktu kebersamaan.

Bandung Barat hari ini seperti ini. Namun kita tidak tahu bagaimana ke depan? Apakah identitas nyunda, nyantri, dan nyakola masih ada?

Kita punya kultur untuk dijaga, kita punya generasi penerus yang harus dibela. Kita yang mendiami tanah ini, maka kita yang bertanggung jawab atas tanah yang kita pijak ini. Kita tidak ingin kehilangan jati diri.

Bandung Barat harus dengan identitasnya. Budaya nyunda dan segala kebaikannya harus terus lestari. Budaya nyantri dan segala kesantriannya harus terus abadi. Budaya nyakola dan pendidikan karakternya harus terus kekal.

Adapun kekurangan kita hari ini; pemerintah yang kurang bisa mengatur, pun masyarakat yang susah diatur, biarkan semua itu menjadi satu pemicu perubahan. Mental kita bukan mental mengeluh. Masalah untuk kita selesaikan bukan untuk sekedar diratapi. Dan perubahan akan terwujud melalui kebersamaan. Dan sebaik-baiknya pendekatan kebersamaan adalah nilai-nilai persaudaraan. Kita mulai dari kesadaran pribadi

Jaga lembur.
(i)

2 komentar

avatar

miris nya kang.!!
1.ashar ... shorogan
2.Maghrib, tawashul & wirid
3.Isya, tadzwid...
4.Shubuh, talaran...
sumoreang ku nadhoman & tadarrus
Ngaplak sawah & lemah cai
Rea beunteur & uneur'eun

Ayeuna ... Gersang, batan sawah jadi kebon
Irigasi jd garasi
Huma jd hamaro

Jagalembur... Identitas diri nu ngajadi bakti kalembah cai

avatar

Muhun. Mugi urang sadayana tiasa ngajagi lembur ngajaga dulur sangkan sae dina jalur.

Klik untuk berkomentar