Cocokologi, Konspirasi dan Kebodohan-Kebodohan Yang Tidak Disadari

Cocokologi, Konspirasi dan Kebodohan-Kebodohan Yang Tidak Disadari

BandungBarat.NET ~ Pernah dengar istilah cocokologi? Suatu tindakan yang serba mencocok-cocokan satu hal dengan hal-hal yang lainya? Yang tidak jarang banyak orang kadang sangat mempercayai buah dari cocokologi tersebut? Ya, rasanya mungkin sebagian dari kita sudah ada yang pernah mendengar istilah cockologi tersebut. Atau jika pun belum pernah, setidaknya fenomena cocokologi ini sebenarnya banyak beredar di sekitar kita.

Beberapa hari ke belakang, mungkin kita pernah menemui beberapa fenomena cocokologi, dan mungkin masih hangat dalam ingatan. Misalnya cocokologi final timnas sepakbola Indonesia melawan timnas Thailand. Pertandingan final tersebut dicocok-cocokkan dengan peristiwa pada tahun kelahiran nabi, yakni tahun gajah. Dimana pasukan gajah yang berusaha untuk mengahancurkan ka'bah berhasil dikalahkan dan digagalkan oleh burung-burung ababil. Kemudian peristiwa tersebut lantas dicocok-cocokkan dengan pertanda akan datangnya kemengan timnas Indonesia yang dianggap memiliki simbol burung, dan mengalahkan Thailand yang memiliki simbol gajah, yang juga kebetulan bertanding di bulan Rabiul Awwal (bulan Mulud). Meski pada akhirnya justru timnas Indonesia kalah.

Atau ada juga cocokologi lain, semisal logo Bank Indonesia dalam uang rupiah yang dicetak dengan pola unik, lantas dicocok-cocokan gambar dengan palu arit yang merupakan simbol PKI. Kemudian cocokologi tersebut dijadikan alat oleh satu kelompok untuk memupuk kebencian pada pemerintahan, dan menggiring opini seolah pemerintah adalah antek-antek komunis.

Tidak hanya itu, ada lagi cocokologi lainnya sebenarnya bersifat hoax, bahkan jauh dari kecocokan. Namun masih ada saja orang yang mempercayai bahkan mengiyakan tanpa ada dasar tabayun yang kuat. Semisal cocokologi kata "Pokemon Go" yang kemudian diartikan sebagai "aku yahudi", demikian pula dengan kalimat "om telolet om" yang juga diartikan "aku yahudi". Parahnya cocokologi tersebut dihembuskan dengan menyasar isu agama (sara) dan dianggap sebagai satu teori konspirasi yahudisasi.

Tak jadi masalah bila cocokologi tersebut hanya berfungsi untuk sekedar cocok-cocokan dalam arti sebatas iseng dan seru-seruan. Namun nyatanya, cocokologi yang muncul saat ini lebih banyak digunakan untuk memecah belah satu kesatuan dan menggiring masyarakat pada opini pembodohan, terkhusus bagi orang awam. Tak heran bila kemudian dari cocokologi tersebut yang muncul adalah kebodohan-kebodohan yang tidak disadari.

Rupanya, kita masih perlu meningkatkan nalar dan intelektual kita dalam hal tabayyun, yang jujur saja saat ini masih nampak rendah di negeri kita. Jika masih saja muncul hal-hal demikian, ini menandakan matinya logika kebenaran. Apalagi Indonesia adalah negeri yang mayoritas penduduknya adalah muslim, tentu sudah sepantasnya identitas kemusliman tersebut berbanding lurus dengan ruh islam yang ada di dalamnya. Dimana islam sangat menjungjung tinggi ilmu dan amal yang berorientasi pada kebenaran.


Karena cocokologi ini sedikit banyaknya menyasar pada isu dan masalah agama. Kita bisa lihat sebagian dari contohnya semisal cocokologi al-Qur'an yang dicocok-cocokan untuk satu kepentingan tertentu yang nyatanya bukan berangkat dari kebenaran. Semisal cocokologi hitungan angka-angka dari ayat dan surat dalam al-Qur'an yang direka-reka untuk kepentingan politik agar mendukung satu calon misalnya. Atau satu peristiwa tertentu yang tidak jelas bagaimana membuktikan kebenarannya. Semisal cocokologi demo 212 yang berusaha menggiring masyarakat seolah hal-hal tersebut "direstui Allah" dan sudah diramalkan dalam al-Qur'an. Ada pula ayat-ayat yang dicocok-cocokan seolah ayat tersebut memang diturunkan oleh Allah untuk peristiwa-peristiwa tersebut yang entah bagaimana cara membuktikan kebenarannya. Pedahal, wallohu a'lam bi murodihi masih berlaku sampai kapanpun.

Sudah saatnya cocokologi ini hanya sekedar cocok-cocokan dan tidak diyakini sebagai cocok beneran apabila tidak ada landasan yang memang disertai fakta kebenaran. Semoga Allah senantiasa memberikan taufik serta hidayah-Nya bagi kita semua.
Wallohul Muwafiq ila aqwami Thorieq, Wass..
__
Ditulis oleh:
Rifkiyal Robani
(Ketua Umum Ikatan Santri Bandung Barat)
Rifkiyal Robani

Refleksi pasca diskusi Kaum Muda NU Bandung Barat ke II di Rumah Makan Lugina Ciminyak pada 24 Desember 2016 yang dihadiri berbagai kalangan aktivis muda dari PMII, GP Ansor, FKGMNU, Ikatan Santri Bandung Barat, BEM STAI Darul Falah, dan kalangan umum lainnya.

Klik untuk berkomentar