Eta Tetapkanlah.. Memperkokoh Kebhinekaan Dalam Membangun Negeri

Memperkokoh Kebhinekaan Dalam Membangun Negeri
Foto: http://sampit.prokal.co

Sebagai sebuah bangsa, Indonesia adalah negara yang merdeka. Negara yang berdaulat tanpa ada penjajahan dan penindasan. Kemerdekaan Indonesia diraih dengan ditandai pembacaan naskah proklamasi kemerdekaan oleh Bung Karno pada 17 Agustus 1945. Itu Artinya pada tahun 2017 ini, kemerdekaan Indonesia sudah sampai pada usia 72 tahun.

Tentunya, usia 72 tahun bukan waktu yang sebentar. Negeri yang penuh dengan keragaman dan kebhinekaan ini telah melalui berbagai masa yang penuh dengan dinamika. Dari zaman Presiden Soekarno, hingga zaman Presiden Jokowi, dari zaman uang seratus rupiah saja bisa dipakai untuk beli satu setel pakaian lengkap, hingga zaman seratus ribu rupiah cuma dapat beli pakaian dalamnya saja. Menarik.

Yang jelas, dari awal merdeka hingga saat ini, Indonesia masih memiliki satu hal yang sama dan sudah menjadi identitas, yakni keragaman dan kebhinekaan.

Kergamaan dan kebhinekaan bangsa Indonesia adalah identitas negeri. Bangsa Indonesia dibangun dari berbagai macam perbedaan. Dimulai dari perbedaan agama, suku, ras, budaya, watak, karakter dan lain sebagainya. Yang kesemuanya tentu tidak bisa diuraikan secara spesifik. Sehingga kemajemukan negeri memang tidak bisa dihindari. Bahkan malah menjadi jati diri untuk negeri ini.

Kebhinekaan di Indonesia, bukan merupakan sesuatu yang baru, dan bukan pula sesuatu yang dibuat-buat. Kebhinekaan Indonesia timbul dari Indonesia itu sendiri dan datang secara alami. Hebatnya, meski hidup dengan kemajemukan, masyarakat Indonesia hingga saat ini mampu hidup berdampingan secara rukun.

Usia 72 tahun menjadi saksi kokohnya negeri ini, negeri yang dibangun dari kebhinekaan. Wajar bila Indonesia memiliki semboyan "Bhineka Tunggal Ika", yang artinya berbeda-beda tetapi tetap satu. Perbedaan tidak dijadikan alat perbecahan. Perbedaan justru dijadikan alat persatuan dalam membangun negeri.

Dan warisan persatuan di tengah perbedaan ini tentu harus dipertahankan. Jangan sampai ada benih-benih perpecahan yang dapat merusak kokohnya persatuan di tengah kebhinekaan.

Fenomena hari ini, tidak bisa dipungkiri, kita menyaksikan ada beberapa gelintir orang yang berupaya mengguncang negeri dengan menjadikan perbedaan sebagai bahan peledaknya. Kebhinekaan yang membangun persatuan seolah ingin dirubah untuk menjadi kebhinekaan yang memicu perpecahan. Isu-isu yang diangkat untuk menimbulkan perpecahan adalah isu-isu klasik, seputar perbedaan agama, ras, suku, etnis dan lain sebagainya.

Pedahal hal-hal demikian justru merupakan fondasi negeri ini. Sebagaimana kita ketahui, Indonesia memang dibangun dari perbedaan-perbedaan tersebut. Yakni dari adanya keragaman agama, budaya, suku, ras, etnik dan lain sebagainya. Jika perbedaan-perbedaan tersebut dibentur-benturkan untuk menimbulkan rasa saling curiga dan berpecah belah, lantas apa makna Indonesia? Tentu yang dikhawatirkan adalah terjajahnya negeri ini oleh bangsanya sendiri.

Oleh karena itu, makna 72 tahun Indonesia adalah memperkokoh kebhinekaan. Bukan merusak, bukan pula memecah belah. Sebab kebhinekaan adalah sesuatu alami di negeri ini. Dan dari kebhinekaan ini pula negeri ini terbangun. Apabila kebhinekaan dijadikan alat kehancuran, maka itulah masa dimana Indonesia dihancurkan.

Oleh sebab itu, 72 tahun memperkokoh kebhinekaan dalam membangun negeri adalah hal yang mutlak di negeri ini, di negeri Indonesia, negeri yang Berbhineka.


Klik untuk berkomentar