Cerita "Menikah Dengan Tabung Gas" Yang Viral di Medsos, Baca Sebelum Dihapus

Gadis Muslimah Berhijab, Cantik

Namaku Anisa. Aku adalah gadis yang hidungnya bolong, dua. Rumahku di Sindangkerta, tapi hati dan pikiranku selalu ke Cipongkor.

Cipongkor memang menghadirkan banyak kenangan yang merah jambu. Bukan karena letak kantor kecamatannya yang lumayan jauh itu. Melainkan karena romansa yang muncul dari salah seorang warganya. Dia bernama Jaelani Muhaimin. Aku memanggilnya Jae Min. Biar terkesan agak Korea. Aku suka korea.

Jaelani Muhaimin adalah seorang pemuda yang memiliki usia lima tahun lebih tua dariku. Dia ganteng kalau dilihat dari foto. Apalagi kalau dilihat dari.. Dari mananya ya?? Entah, lah. Aku bingung. Yang jelas ini masalah hati. Aku menyukai Jae Min dari apa yang aku rasakan. Bagiku, itu sudah lebih dari cukup. Apalagi Jae Min memiliki janggut. Wanita suka janggut, meski semua wanita tak ingin berjanggut.

Pertama kali aku mengenal Jae Min satu tahun yang lalu. Ya, aku ingat-ingat kembali. Kala itu aku masih jadi santri, ngobong di salah satu pesantren yang ada di Cipongkor.

Kala itu, di suatu sore, aku jalan-jalan bersama salah satu temanku yang bernama Imas. Kami pergi untuk berbelanja beberapa kebutuhan pokok. Kita mengendarai motor. Aku dibonceng imas.

Saat dibonceng itu, sesekali kendaraan harus berhenti. Beberapa titik jalan memang mengalami kepadatan kendaraan. Wajar saja, saat itu sedang ada pengecoran jalan. Sehingga dilakukan buka tutup jalan.

Aku dan Imas ikut berhenti, menunggu jalan dibuka.

Dan saat kami menunggu itu, ada seorang pemuda menghampiriku. Pemuda itu adalah sosok Jae Min yang kukenal sekarang. Ia membawa kencleng yang terbuat dari kaleng Khong Ghuan. Ia menyodorkan kenclengnya padaku. Aku tersenyum. Lantas kuambil recehnya.

"Makasih," kataku.

Ia menatapku. Melihatku dengan tatapan aneh. Seperti orang yang mendadak sawan.

"Udah, A. Segini cukup, kok, makasih," kataku sembari senyum.

Mendadak, ia tiba-tiba tertawa geli sambil berpaling menghampiri teman-temannya.

"Haha.. Cong! Tingali si eta mah kalah dibawa duitna," katanya sembari tertawa mengahmpiri temannya yang kemudian kukenali bernama Acong.

Temannya itu, si Acong dan beberapa temannya yang lain lantas melihat ke arah Jae Min. Mereka mengerutkan dahi karena belum mengerti apa maksud Jae Min.

"Kumaha Jae?" kata si Acong itu.

"Ieu.. Haha. Pan ku aing kenclengna disodorkeun, eh si etamah kalah duitna nu dibawa," kata Jae Min.

"Anyirrrr... Haha.." serempak yang lain tertawa.

Acong dan yang lainnya tertawa geli. Mereka melihatku dengan tatapan konyol. Sementara aku tidak terlalu faham terhadap apa yang mereka tertawakan.

Tak lama, ruas jalan pun dibuka. Aku sempatkan untuk menganggukan kepala pada mereka, tanda terima kasih. Meski agak malu. Dan entah kenapa mereka malah mesem padaku.

Aku kemudian membuat kesimpulan bahwa mereka adalah orang-orang gila. Mesam-mesem. Risih.

"Nes, kamu ngapain tadi? Kok diketawain?" Tanya imas.

"Enggak tahu. Tadi aku cuma ambil receh yang dikasih ke aku," jawabku.

"Kamu ambil?" tanya Imas dengan nada sewot.

"He'euh.." kataku.

"Hahaha.." Imas pun tertawa.

Dari sana aku tahu, bahwa aku salah faham. Imas menyadarkanku saat itu juga. Bahwasanya kencleng yang disodorkan padaku bukan maksud untuk memberi, melainkan untuk meminta. Semacam sumbangan.

Aku menjadi malu. Kepikiran. Maklum wanita susah move on kalau punya masalah.

Untungnya, kata Imas, bagi wanita cantik salah faham itu adalah hal yang wajar. Sebab kebanyakan wanita cantik rata-rata kurang cerdas.
***

Esoknya, aku melintas ke jalan yang sama. Aku kembalikan uang yang aku ambil. Aku meminta maaf pada mereka atas kelakuanku. Sebab yang terpenting dari sebuah kesalahan adalah berani meminta maaf dan mampu memperbaiki diri.

"Siapa namamu?" tanyaku pada Jae Min yang saat itu aku belum kenal.

"Gustavo Rudolfo," jawabnya.

"Oh.." kataku.

"Kok, 'oh'?" tanyanya.

"Kamu bohong.." ucapku.

"Kamu benar.." ucapnya.

"Terus? Siapa namamu?" tanyaku.

"Agus Subagja.." jawabnya.

"ih da.." ketusku.

"Kenapa?" tanyanya.

"Kamu bohong lagi. Da aku ge apal."

"Apal dari mana?"

"Dari kemarin. Temenmu semua manggilnya 'Jae'" kataku.

"Hehe.."

***
"Aku tahu nama kamu, Anisa kan?" Katanya tiba-tiba.

"kok tahu?" tanyaku.

"Cantik.." katanya.

"Maksudnya?" kutanya.

***
Seperti itulah, aku ingatnya seperti itu. Saat dimana aku mengenal Jae Min. Sosok yang setahuku merupakan pengangguran dan tak berpendidikan.

Tahu sendiri lah, jika kubayangkan mukanya saat itu, wajahnya usang. Pakaiannya compang camping. Ada kencleng ditangannya.

Kencleng itu, tidak hanya receh yang dilempar oleh pengendara yang lewat. Kadang ada juga yang meletakan sebatang jarum coklat saking tidak memiliki receh. Masih mending, lah. Sebab yang lainnya hanya memberi lambaian tangan sambil bilang, "engke uih na nya..".

Ah.. Jae Min.. Kala kuingat lagi masa pertemuan itu, membuatku merasa bersalah. Aku banyak berprasangka yang tidak-tidak padamu.
***

"Halo?" kataku saat mengangkat telepon yang baru saja masuk.

"Wa'alaikumsalam.." jawabnya.

"Iya assalamualaikummmmmm.." kataku.

"Besok aa berangkat rombongan. Paling empat puluh orang," katanya.

"Okey.." kataku.

Yang menelepon adalah Jae Min. Ya selalu ada dia.
***

Dulu, Jae Min pernah meminta nomor hapeku. Tapi tidak aku beri. Namun, begitulah lelaki. Suka ada saja hal-hal yang entah bagaimana. Ah. Halnya Jae Min, ia meneleponku dan mengsmsku. Entah dari mana ia bisa tahu nomor hapeku.

Ia selalu menggangguku. Setiap pagi, siang dan sore selalu ada ucapan darinya. Kadang ia nanya lagi apa, gimana kabarnya, dan lain sebagainya. Aku sih, risih.

Saat kubilang, kenapa ia selalu perhatian padaku, mengganggu. Tapi ia hanya bilang, begitulah lelaki. Tidak mudah saat mencintai. Ia mesti selalu berusaha untuk bisa dekat dengan sosok yang dicinta.

Aku bilang, kan mengganggu. Ia hanya bilang, ya sudah. Maaf. Aku undur diri.

Dari sana aku tak pernah lagi mendapatkan kabar darinya. Hari-hariku menjadi lebih sunyi. Meski kadang aku merasa jadi tidak enak padanya. Aku merasa terlalu kejam.

Beberapa bulan berlalu, aku kembali bertemu dengan Jae Min. Bukan di jalan. Tapi di televisi. Aku melihatnya di televisi. Di acara talk show. Aku begitu kaget melihat sosok Jae Min yang sesungguhnya.

Setelah itu, aku pun buka google. Aku berusaha mencari info tentang Jae Min. Ternyata banyak sekali info tentangnya. Aku benar-benar kaget. Sosok yang kukenali itu ternyata sudah banyak dikenal. Ia diberitakan di mana-mana.

Aku lantas memutuskan untuk mencari Jae Min. Aku berusaha mencarai informasi dimana rumahnya. Setelah aku mendapat alamat rumahnya, segera aku beangkat menuju rumahnya.

Akhirnya, aku bertemu dengan Jae Min. Dan ternyata benar apa yang diberitakan di media-media. Bahwa Jae Min adalah korban busung lapar. Ia sampai diwawancara ditelevisi dan media-media.
!?
Beuh..
**
*Bagi yang penasaran, silahkan baca lagi cerita "menikah Dengan Tabung Gas"
_______
Penulis:
Rifkiyal Robani

Klik untuk berkomentar