Cerita Monster Jembatan Ciminyak (2): Hanya Mimpi

Cerita Monster Jembatan Ciminyak (2): Hanya Mimpi

Aku naik ke atas jembatan. Lantas tegak berdiri sambil menghadap ke arah monster yang nampak mengerikan itu.

Sebenarnya aku tidak benar-benar berani menghadapi monster itu. Monster yang ukurannya sebesar gunung aseupan. Bagaimana pun, aku adalah manusia biasa. Manusia yang hanya memiliki tinggi sekitar 165 cm. Manusia yang tadi pagi hanya sarapan nasi, dua piring.

Sungguh, aku tidak punya daya. Jangankan melumpuhkan monster, melumpuhkan hati perempuan saja aku sering gagal.

Yaa.. Kecuali Nabila. Melumpuhkan Nabila adalah kebetulan. Atau mungkin ijabah doa karena aku sering menyebut namanya di sepertiga malam. Mungkin itu yang dinamakan, ah..

Semua orang mesti tahu, bahwa Nabila adalah gadis yang cantik. Mungkin paling cantik sedunia. Atau paling cantik sekelurahan. Atau satu RT pun tidak masalah. Yang penting paling cantik.

(Saran: Bagi yang belum baca part 1, sebaiknya baca dulu! Biar nyambung. Klik di sini: Cerita Monster Jembatan Ciminyak Cililin Part 1)

Nabila punya gigi gingsul. Jika senyum, ada manis-manisnya. Membuatku betah kalau sudah memandangi foto-fotonya di facebook.

Kupandangi Nabila dari atas jembatan. Ia nampak lirih melihatku. Ia nampak khawatir melihatku yang akan bertarung dengan monster itu. Aku tidak boleh mengecewakan Nabila. Aku harus melawan monster itu.

"Arggghhhhhhhh...."

Aku berteriak seketika. Bukan untuk menakut-nakuti sang monster. Tapi untuk mengeluarkan sebuah jurus. Jurus terlarang yang aku pelajari saat di alam ereup-ereup. Namanya jurus padalarang.

Mendadak, aku merasa ada tenaga lain yang muncul dalam tubuhku. Aku merasa seperti dipenuhi oleh sengatan listrik.

Aku lantas menyerang monster itu dengan sekuat tenaga. Aku pukul-pukul tubuhnya dengan sekeras mungkin. Monster itu malah melongo padaku. Ia menatapku aneh. Kemudian nampak marah. Matanya merah dan hidungnya membesar.

Aku mendadak takut. Sungguh, aku takut melihatnya. Monster itu menjadi sangat mengerikan. Arrgghhh..

Mataku kubuka perlahan. Tubuhku terasa panas. Aku keringatan. Jantungku berdebar. Kulihat jam yang menempel di dinding menunjukan pukul 1 siang.

Dan, ya, aku sedang di kamar. Sungguh, baru saja aku bermimpi yang aneh. Mimpi bertemu dengan Nabila di jembatan Ciminyak, tersesat di gurun, hingga harus bertarung melawan monster yang hidungnya ronghod. Menakutkan.

Segera kuambil hape yang ada di meja. Kubuka facebook. Dan kulihat profil akun Nabila. Ya, ia masih tetap sama, cantik. Sampai-sampai terbawa mimpi.
**

Siang itu, aku jadi banyak merenung. Mengapa aku bermimpi aneh. Tentang wajit dan kekuatan. Tentang Nabila dan monster. Pun tentang Pendekar Gunung Halu.

Akhirnya, selepas shalat dzuhur, aku langsung bergegas berangkat ke Sindangkerta. Menuju daerah Gandok. Jika ada yang tidak tahu Gandok di Bandung Barat,  wajar.

Memang, sudah tiga minggu ini aku rutin datang ke Gandok. Setiap hari aku dan teman-temanku nongkrong di jalanan, antara Rancapanggung dan Sindangkerta. Jika ditanya untuk apa? Jawabannya sederhana. Hanya untuk mengatur lalu lintas jalan.

Kebetulan, di sepanjang jalan Rancapanggung dan Sindangkerta sedang dilakukan pengecoran. Aku memanfaatkan situasi itu. Untuk ikut nimbrung melakukan buka tutup jalan. Sesekali ngencleng untuk mendapatkan receh.

"Beng, kenapa telat?" tanya Damar kepadaku ketika aku baru saja tiba.

Namaku sebenarnya Ahmad Qostolani Itu nama pemberian kedua orang tuaku. Tapi anehnya, teman-temanku malah memanggilku dengan sebutan Obeng. Asal muasalnya tidak akan aku ceritakan.

"Ketiduran.." jawabku singkat.

Aku langsung bergabung dengan mereka.

Beberapa waktu kemudian, sebagaimana biasa aku sedang ngencleng di tengah buka tutup jalan.

Namun, tiba-tiba aku terkejut. Aku melihat ada seorang gadis yang seperti tidak asing bagiku. Berkulit putih, rambutnya terurai. Hidungnya yang mancung dan matanya berjumlah dua.

Aku bisa melihatnya, karena ia tidak mengenakan helm sambil duduk dibonceng di atas motor.

Tidak salah. Itu adalah Nabila. Ya, benar ia. Gadis yang berteman denganku di facebook. Gadis yang tadi pagi hadir dalam mimpiku.

"Nabila, ya?" tanyaku sembari menghampirinya segera. Aku tidak sadar, kenapa aku menghampirinya dan refleks menanyakan namanya.

Nabila terperangah. Dahinya mengkerut. Ia seperti menebak-nebak, siapa aku.

"Eh? Siapa ya?" tanya orang yang justru membonceng Nabila.

Saat itu Nabila memang sedang dibonceng oleh seorang lelaki. Memakai helm putih. Motornya Ninja dua silinder. Tahu, lah.

Aku hanya tersenyum. Lantas berlalu. Nabila melihatku. Ia mungkin bertanya, siapa aku yang bisa tahu namanya. Kurasa jika Nabila teliti, ia pasti tahu aku.

Entah berapa kali aku mengirimnya pesan di facebook, pesan yang hanya diread saja itu. Tanpa respon, tanpa balasan. Jika Nabila teliti, ia pasti ingat. Yang mengirim pesan itu adalah aku. Orang yang di foto profilnya sering pakai celana sobek-sobek, seperti sekarang ini.

Ah, rasanya aku menjadi melankolis. Wajah premanku meleleh jika berbicara wanita. Sesangar apa pun preman, ada saatnya melankolis.

Lagi pula, siapa aku? Hanya teman Nabila di facebook. Dan kurasa, memang hanya di facebook. Tidak mungkin sampai di dunia nyata. Apalagi sampai berharap lebih, jelas tidak mungkin.

Jika dibanding peliharaan Nabila yang pakai ninja tadi, sepertinya aku bukan apa-apa. Hatiku pecah. Entahlah. Mungkin ini hanya kekecewaan seorang fans saja. Ninja memang sering kali momok yang mengerikan. Nikung.
**

Aku pamitan pada yang lain. Aku merasa tidak enak hati. Mumet.

"Kemana, Beng?" tanya Damar.

"I'tikaf, ka masjid.." kataku.

"Leheung.." balasnya.

Aku lantas pergi. Tidak ke masjid, sih. Aku berangkat ke Ciminyak. Entahlah, aku merasa ingin ke Ciminyak. Mungkin gara-gara aku bermimpi datang ke sini.

Ciminyak memang menawarkan destinasi. Jika ada orang yang belum tahu Ciminyak, tentu harus segera tahu. Ciminyak adalah destinasi wisata kuliner. Kuliner sederhana. Kuliner di Ciminyak adalah khas ikan bakar. Ada ikan nila, ikan mas dan ikan mujair. Jangan harap ada ikan paus.
**

Pukul lima sore, aku shalat Ashar. Akhir memang. Tak apa. Selepas shalat itu, seketika facebook messagerku bunyi. Aku buka. Ada pesan masuk.

"Tadi itu kamu ya?" tertulis di inbox.

Kulihat, dari Nabila. Betapa jantungku berhenti. Sesaat. Lantas berdetak. Tapi agak cepat. Ini pertama kalinya Nabila mau berinteraksi denganku. Ia membalas pesanku setelah sekian lama tak pernah sekali pun memperdulikanku.

Aku balas:
:)

Kukirim titik dua dan kurung tutup. Hanya itu. Aku bingung.

"Kok, malah emot senyum?" tanyanya.

"Iya. Tadi aku," balasku.

"Maaf ya. Tadi aku kaget. Jadi bingung pas kamu nanya," balasnya.

"Tak apa. Maaf tadi aku lancang," tulisku.

"Lancang kenapa? Biasa aja kali a.." karanya.

" :) "

"Lagi apa?" tanyanya kemudian.

"Lagi makan, di ciminyak.. Hehe"

"Oh, udah beres ngenclengnya?" tanyanya.

"Belum sih. Aku pergi duluan aja. Nyari makan ke Ciminyak,"

"Ini nomor whatsaap aku, 0838213193033 " balasnya.

" Lho? Kok tiba-tiba ngasih nomor?" tanyaku.

"Bukannya dulu kamu sering minta nomor WA ku? Maaf, baru sekarang aku kasih.." katanya.
**

Percakapanku saat itu terhenti. Batere hapeku mati. Tak apa.
**

Aku menjadi kepikiran. Entah angin apa. Kenapa Nabila yang dulu tidak pernah membalas pesanku, kini nampak berbeda. Ah, sesekali alu merasa mendapat angin segar. Serasa dibuka sedikit pintu, meski sedikit, hanya untuk sekedar membuka silaturahmiku dengannya. Tapi, ya, hanya silaturahmi.

Aku tidak lagi memiliki asa untuk berimajinasi menjadi pasangan Nabila. Aku sadar diri. Siapa aku? Siapa Nabila? Kita bagai bumi dan langit. Lagi pula, kurasa Nabila sudah punya peliharaan. Semacam monyet, atau apalah.

Aku tidak ingin terjatuh dalam pengaharapan cinta yang kosong. Aku tidak ingin pengalamanku dulu terulang. Dulu, waktu masih sekolah di SMA yang ada di Batujajar, aku penah punya pacar. Namanya Ismi. Ia mencampakanku. Dan itu sakit. Aku terus berharap kembali padanya, mengejarnya, mencintainya, tapi ia malah terus pergi, menghindar, dan akhirnya menjalin kasih dengan orang yang lebih mapan dariku. Bagiku itu sakit.

Mungkin ini lebay. Tapi setiap orang punya kisah asmaranya masing-masing. Dan kisah asmarku, ya, begitulah.
___
Bersambung..
Penulis:
Rifkiyal Robani

Klik untuk berkomentar