Kenakan Sarung, Ajeungan Muda Bandung Barat Bahas Islam Nusantara

Kenakan Sarung, Ajeungan Muda Bandung Barat Bahas Islam Nusantara

Sebagai salah satu wujud perhatian terhadap kelestarian kearifan lokal Kyai Kampung, Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Bandung Barat pada hari Kamis (16/11/17) menggelar kegiatan Halaqoh Ajengan Sarungan. Kegiatan yang dihadiri oleh ajengan muda perwakilan dari berbagai pesantren di Bandung Barat itu dilaksanakan di aula utama Kantor PCNU Kabupaten Bandung Barat.

Dengan menggunakan sarung, para peserta dan tamu yang hadir nampak antusias datang ke gedung kantor PCNU Bandung Barat yang berlokasi di Kecamatan Padalarang bersebelahan dengan Kantor Kemenag setempat.

Ketua Ansor Bandung Barat, Cecep Nedi Sugilar menuturkan bahwa Halaqoh Ajengan Sarungan ini dimaksudkan sebagai ajang silaturahmi para ajengan muda di Bandung Barat. Selain itu menurutnya, momentum silaturahmi tersebut dimanfaatkan juga untuk menampilkan syiar tradisi umat islam di nusantara yang sudah biasa menggunakan sarung.

"Kita berupaya untuk merawat tradisi umat islam di Nusantara, termasuk sarungan," katanya.

Tradisi memakai sarung di Indonesia diidentikan dengan simbol pakaian umat islam. Dan ini menjadi salah satu khazanah masyarakat muslim di Indonesia. Termasuk penggunaan igal dan gamis yang sering diidentikkan dengan status islami.

Pedahal di Arab sendiri, pakaian igal dan gamis sebenarnya tidak menjadi simbol pakaian islam. Melainkan ciri khas pakaian masyarakat Arab. Muslim maupun non muslim, di kalangan masyarakat arab biasa menggunakannya. Pergi ke mesjid atau pun pergi ke stadion guna menonton bola dengan bergamis sudah biasa dilakukan oleh masyarakat arab.

Kegiatan Halaqoh Ajeungan Sarungan yang dilaksanakan oleh PC Ansor Bandung Barat bersama Ajeungan Muda di Bandung Barat tersebut membedah bahasan yang bertema “Merawat Tradisi Menjaga Islam Nusantara”. Hadir dalam kegiatan tersebut dua pembicara utama, KH. Cepy Hibatulloh (Ajeungan Muda dari Cianjur pimpinan Pondok Pesantren Hibbatussadiyah) dan Ajeungan Ceng Abdul Kholiq (Ketua MDS Rijalul Ansor Bandung Barat).

Dalam paparannya, KH. Cepy Hibatulloh menjelaskan bahwa Kiyai NU yang ajengan sarungan sudah saatnya tampil ke depan dalam menjaga tradisi ke-NU-an. NU dengan Islam Nusantaranya sebagai wajah slam yang Rahmatallil ‘alamin sudah diakui oleh negara-negara di dunia. Dimana NU memiliki komitmen garis perjuangan yang juga konsen pada menjaga perdamaian dunia. Menurutnya, negara Arab Saudi saja yang sebelumnya terkenal dengan pusat dakwah Wahabi saat ini sudah mulai menerapkan garis-garis perjuangan atau faham-faham ala NU.

“Sudah selayaknya kita sebagai kader muda NU berkewajiban untuk merawat tradisi NU dan menjaga Islam Nusantara agar senantiasa kuat di NKRI ini,” imbuhnya.

Ketua PC GP Ansor Kabupaten Bandung Barat, Cecep Nedi Sugilar pun kembali menambahkan agar masyarakat senantiasa menghargai jasa para kiyai atau ajengan kampung. “Dulu titik perjuangan untuk mendirikan negeri ini sebenarnya berasal dari pondok-pondok pesantren yang sedikit kumuh terbuat dari bambu yang sudah reyot dimakan usia. Akan tetapi semangat perjuangan para santri sarungan yang dikomandani oleh para ‘ajengan kampung’ mampu menggelorakan semangat mereka. Kita masih ingat akan peristiwa 10 November, di mana para santri dan ajengan kampung dengan bersarung menenteng senjata maju ke medan perang melawan tentara Belanda yang ingin menjajah kembali Indonesia” ungkapnya.**
(AAR/Rifkiyal)

1 komentar:

Klik untuk berkomentar