Seputar Isu PKI Mengintai Ajengan


Akhir-akhir ini, saya menjadi miris, kasihan terhadap para santri, ajengan, dan kalangan pesantren.

Semua dibuat resah dengan isu-isu PKI yang mengincar untuk membunuh Ajengan. Para ajengan yang harusnya tentram dalam menjalankan misi pendidikan keagamaan, kini harus sibuk dan serba waspada menjaga keamanan diri.

Hingga di beberapa kejadian, ada ajengan dan keluarganya jadi parno ketika kedatangan tamu tak dikenal. Pedahal, biasanya, kedatangan tamu seperti iti memang sudah biasa bagi ajengan. Karena ajengan memang punya peran lebih luas dalam interaksi sosial.

Namun akibat adanya isu PKI, semua jadi resah. Ada tukang listrik yang luntang lantung periksa KWH di luar rumah pun mungkin akan dicurigai PKI.

Begitu pun santri, di beberapa pesantren, para santri nampak gerah dan marah. Isu-isu kekerasan terhadap Ajengan menjadi pemicu untuk membangkitkan amarah santri. Jika kita mengenal santri sebagai sosok pelajar yang sopan dan santun, hal ini mungkin tidak akan ditemui ketika seorang santri mendapati ada informasi ajengan terkena tindakan kejahatan. Sebab, bagi seorang santri, guru dan Ajengan adalah segalanya. Mereka akan buas bila Ajengannya tersakiti.

Isu tentang PKI mengincar Ajengan saat ini menimbulkan dampak saling curiga. Di beberapa tempat, ada santri yang memukuli ODGJ (orang dengan gangguan jiwa) karena dianggap/dicurigai sebagai PKI. Pedahal setelah ditelusuri, orang tersebut memang benar-benar gila. Beberapa video yang beredar di medsos, seperti FB dan WA misalnya, ada tayangan orang gila yang diintrogasi sambil dipukuli.

"Ngaku siah! Sia keur naon di dieu? Maneh nanaonan luntang lantung di dieu bari ningalian ka pasantren? Sia di titah ku saha?" Kira-kira demikian pertanyaan-pertanyaan sang introgator. Yang di selingi dengan tamparan dan pukulan-pukulan. Pedahal, dari video yang ditayangkan, dari pola penuturan si terduga, ia memang menunjukan gejala ODGJ. Namun si introgator terus saja menghakimi, ia meyakini bahwa ODGJ tersebut adalah PKI. Pedahal seharusnya, benar atau salah, asas praduga tak bersalah harus ditegakkan. Tidak boleh langsung menghakimi.

Beginilah akhirnya. Masyarakat menjadi korban akibat penggiringan opini dan isu. Orang sehat bisa nampak menjadi gila, orang gila bisa menjadi terluka. Dan ini merupakan masalah sosial yang harus diselesaikan.

Seputar Isu PKI Mengintai Ajengan

Bagi saya secara pribadi, yang merupakan seorang santri dan sekaligus aktivis pesantren, saat ini saya masih meyakini bahwa isu Kejahatan PKI yang mengincar Ajengan saat ini adalah hoax.

Tidak ada bukti yang valid (sahih) akan adanya hal tersebut. Jika memang benar isu itu ada, silahkan buktikan dengan data dan fakta yang jelas dan tuntas. Bukan hanya kacamata medsos yang sempit. Bukan hanya mengkonsumsi broadcast yang tidak jelas sanadnya.

Bagi saya, jika memang benar ada bukti yang valid tentang keberadaan PKI mengincar Ajengan, saya jelas akan ikut barisan paling depan untuk menghadangnya. Namun sampai saat ini, analisa dan hasil penelusuran saya masih kelabu. Tidak ada data yang valid dan tidak ada pula bukti yang sahih.

Kejadian penyerangan terhadap Mama KH Umar Basri Santiong, setelah dilakukan pemeriksaan aparat yang berwajib, ternyata pelaku memang memiliki gangguan jiwa.
( *Pelaku Penganiayaan KH Umar Basri Pernah Dirawat 26 Hari di Rumah Sakit Jiwa Cisarua* http://jabar.tribunnews.com/2018/01/29/pelaku-penganiayaan-kh-umar-basri-pernah-dirawat-selama-26-hari-di-rumah-sakit-jiwa-cisarua )

Penyerangan terhadap KH Umar Basri ini merupakan awal mula dihembuskannya isu "PKI mengincar Ajengan".

Sepertinya ada sebagian pihak yang tidak bertanggung jawab ingin memanfaatkan musibah pada KH Umar Basri dengan mengungkit PKI, dengan tujuan politis.

Misalnya, di media sosial, sebagian isu PKI yang dihembuskan kemudian diarahkan untuk menjatuhkan PDIP dan penghancuran citra Jokowi yang dikabarakan akan maju kembali di Pilpres 2019. PKI terus diungkit dan dibuatkan cocokologi dengan PDIP. Ini politis pisan.

Meskipun, realitanya kejadian yang menimpa KH Umar Basri tidak tepat dituduhkan bahwa pelakunya adalah PKI. Jika pun ingin diisukan, pelaku penyerangan enaknya dituduh radikalis islam atau islam garis keras. Sebab saat penyerangan, si pelaku menyebut-nyebut neraka "pinarakaeun" dan menyerang mama KH Umar Basri saat wiridan. Ini jauh dari tipikal PKI. Sebab PKI adalah pengusung ideologi komunisme, yang di masyarakat kita komunis sering disangkut pautkan dengan atheis (faham yang tidak percaya tuhan, surga dan neraka), meski sebenarnya tidak sama.

Kasus KH Umar Basri ini menjadi enak untuk digoreng. Sebab beberapa hari kemudian, kebetulan ada kasus pembunuhan terhadap seorang Ustadz benama Prawoto yang merupakan Brigadir Persis. Kasus yang tidak ada sangkut pautnya dengan kasus pertama ini diisukan menjadi kasus yang saling berkaitan. Seolah kasus pertama dengan kasus kedua merupakan serangkaian kasus terorganisir. Lagi-lagi dimunculkan isu PKI. Yang ujung-ujungnya politis, dituduhkan pada PDIP.
( *PDIP Tegaskan Pelaku Pembunuh Ustad Prawoto Bukan Kadernya*)
http://www.galamedianews.com/bandung-raya/178167/pdip-tegaskan-pelaku-pembunuh-ustad-prawoto-bukan-kadernya.html )

Pedahal, berdasar fakta, pelaku pembunuhan Ustadz Prawoto adalah tetangganya sendiri yang diduga mengalami depresi dan stres.

( *Adik Pelaku Sebut Penganiaya Komandan Brigadir Persis Labil dan Temperamen*
http://regional.kompas.com/read/2018/02/02/19313111/adik-pelaku-sebut-penganiaya-komandan-brigadir-persis-labil-dan-temperamen )

( *Kakak Ipar Prawoto: Pelaku Pernah Mau Bakar Rumah*
 http://www.galamedianews.com/tkp/178238/kakak-ipar-prawoto-pelaku-pernah-mau-bakar-rumah.html)

( *Penganiaya Prawoto Suka Cium Tangan Kalau Lagi Ngamuk*
http://www.galamedianews.com/tkp/178235/penganiaya-prawoto-suka-cium-tangan-kalau-lagi-ngamuk.html )

Dua kejadian ini kemudian dijadikan isu, dengan membuat opini bahwa para usatdz dan ajengan sedang diincar PKI untuk dibunuh. Setiap hari media sosial sering dipenuhi buzzer-buzzer pembuat berita hoax. Hingga akhirnya membuat keresahan pada masyarakat khususnya kalangan pesantren.

Diantara akibat dari propaganda ini, akhirnya timbul saling curiga. Bahkan ada orang yang tidak bersalah dihukumi karena gelagatnya tidak normal. Atau bila ada suatu kejadian di pesantren, selalu dikait-kaitkan dengan PKI.

Berikut ini adalah klarifikasi atas berita-berita hoax yang berkembang:

- Klarifikasi dari Pondok Pesantren Al Islamiyah Baros dan dari Pondok Pesantren Al Wardayani Sukaraja Sukabumi. Menghimbau masyatakat untuk tidak tergiring isu dan provokasi. Dan meminta masyarakat agar tidak ada menuduh PKI.
https://youtu.be/JNmJbPSeeNU

https://m.detik.com/news/berita-jawa-barat/d-3854675/bikin-panik-santri-pria-gila-ini-dititipkan-ke-dinsos-sukabumi

- Yayasan Pesantren Khusnul Khotimah Kuningan klarifikasi kebohongan berita hoax yang menyatakan didatangi PKI
https://www.bingkaiwarta.com/read/ponpes-husnul-khotimah-klarifikasi-berita-hoax

- Orang Gila Intai Ulama di Pesantren Darmaga Bojongpicung Cianjur Ternyata Hoax
http://jabar.pojoksatu.id/cianjur/2018/02/12/orang-gila-intai-ulama-bojongpicung-cianjur-ternyata-hoax/

- Ustad Sulaiman Dikabarkan Dibacok Orang Gila, Ini Klarifikasi Polisi. Ternyata hoax dan penuh kebohongan
https://www.jawapos.com/read/2018/02/08/187168/ustad-sulaiman-dikabarkan-dibacok-orang-gila-ini-klarifikasi-polisi?amp=1

http://bogor.tribunnews.com/amp/2018/02/08/kabar-ulama-dibacok-orang-gila-di-cigudeg-bogor-viral-begini-penjelasan-polisi

- Pondok Pesantren Darunnajah Jadi Korban Hoax http://m.republika.co.id/amp_version/ok0mdu377

- Beredar Broadcast Catut Polisi soal 'Kiai Sasaran PKI', Dipastikan Hoax
https://m.detik.com/news/berita/d-3865232/beredar-broadcast-catut-polisi-soal-kiai-sasaran-pki-dipastikan-hoax

- Polisi tegaskan info pendataan para kiai terkait PKI adalah hoax
https://m.merdeka.com/amp/peristiwa/polisi-tegaskan-info-pendataan-para-kiai-terkait-pki-adalah-hoax.html

Pada akhirnya, isu kiyai diintai oleh PKI adalah hoax. Sampai saat ini, semua terbukti bohong. Semua kejadian, tidak ada sangkut pautnya dengan PKI. Dan setiap rangkaian kejadian, tidak ada keterikatan dan tidak pula terorganisir satu sama lain.

Saya rasa, isu PKI jangan diungkit-ungkit lagi. Sebab, jika diungkit-ungkit, PKI bisa bangkit beneran. Kondisi sosial di masyarakat kita masih sering aneh. Yang dilarang kadang menjadi dibuat-buat. Selalu penasaran dan ingin mencoba. Apalagi anak muda kita, sebagian diantaranya ada yang suka melabrak arus. Ketika simbol PKI dilarang, kadang mereka malah suka sengaja melawan arus. Menjadikannya sebagai tren.
 Wallohu a'lam bi showab.

Oleh:
Ang Rifkiyal
(Penulis merupakan santri Pondok Pesantren Mafazah Bandung Barat yang saat ini sedang menempuh kuliah S2 di Program Pascasarjana UNINUS bandung)

Klik untuk berkomentar